Program Studi Radiologi Program Diploma Tiga, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) secara resmi menyelenggarakan ujian Objective Structured Clinical Examination (OSCE) Kelulusan untuk Tahun Akademik 2025/2026. Ujian komprehensif yang berlangsung sejak tanggal 8 hingga 12 Juni 2026 ini diikuti oleh 103 mahasiswa tingkat akhir (Semester VI) yang telah menyelesaikan seluruh beban mata kuliah teoritis dan praktis mereka.
Sebagai instrumen krusial dalam sistem penjaminan mutu (quality assurance), kelulusan dalam OSCE ini bersifat wajib (mandatory) dan menjadi syarat mutlak bagi seluruh calon lulusan sebelum mereka dinyatakan berhak mengikuti proses Yudisium. Lebih dari sekadar rutinitas akademik, OSCE dirancang sebagai jembatan penentu untuk memastikan bahwa setiap lulusan radiografer dari UNISA Yogyakarta memiliki standar kompetensi klinis yang seragam, presisi, aman, serta siap bersaing di dunia kerja radiologi yang semakin dinamis.
Penyelenggaraan OSCE di lingkungan Prodi Radiologi D3 UNISA Yogyakarta sendiri bukanlah hal baru, melainkan sebuah kegiatan rutin akademik yang terus dipertahankan keunggulannya. Kegiatan evaluasi klinis komprehensif ini telah rutin dilaksanakan setiap tahunnya sejak pertama kali diinisiasi pada tahun 2022. Dari tahun ke tahun, pelaksanaan OSCE terus mengalami penyempurnaan, baik dari segi integrasi teknologi peralatan, variasi kasus radiografi darurat, hingga pemutakhiran rubrik penilaian klinis. Keberlanjutan program ini sejak 2022 membuktikan komitmen jangka panjang institusi dalam menjaga mutu lulusan agar selalu relevan dengan dinamika kebutuhan fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.
Menjawab Tantangan Emergency Imaging Berlandaskan Nilai Islami
Sesuai dengan visi utama Program Studi Radiologi D3 UNISA Yogyakarta, yaitu menjadi program studi yang unggul dalam bidang kegawatdaruratan berdasarkan nilai-nilai Islam berkemajuan, ujian OSCE tahun ini memberikan penekanan besar pada aspek kesiapsiagaan gawat darurat (emergency imaging).
Mahasiswa dituntut untuk menunjukkan ketangkasan yang tinggi, ketepatan pengambilan keputusan, dan prosedur proteksi radiasi yang aman di bawah tekanan situasi klinis kritis. Tantangan simulasi tersebut dipecah ke dalam 6 stase ujian yang wajib dilewati secara berurutan oleh setiap peserta yang sudah disesuaikan dengan ketentuan dari AIPRI (Asosiasi Institusi Pendidikan Radiografer Indonesia), stase tersebut terdiri dari:
Stase 1: Radiografi alat gerak atas
Stase 2: Radiografi alat gerak bawah
Stase 3: Radiografi abdomen, thorax, dan pelvis
Stase Istirahat
Stase 4: Radiografi tulang belakang (vertebrae)
Stase 5: Radiografi kepala dan gigi
Stase 6: Radiografi menggunakan kontras media
Di setiap stase, performa mahasiswa dinilai secara objektif dan terstruktur melalui enam indikator keterampilan utama, mulai dari prosedur pra-pemeriksaan, kesiapan peralatan menggunakan pesawat radiografi mobile dan phantom anatomi, persiapan pasien, penatalaksanaan eksposur, penanganan pasca-pemeriksaan, hingga penutupan berupa sikap profesionalisme klinis.
Selain aspek teknis, keunikan dari pendidikan di UNISA Yogyakarta terletak pada integrasi komunikasi terapeutik yang berlandaskan akhlakul karimah. Kemampuan mahasiswa dalam menenangkan pasien di kondisi darurat dengan empati yang tinggi menjadi salah satu poin evaluasi yang tidak terpisahkan.
